Loading...

Rabu, 13 April 2011

Sejarah Puri Tabanan

SEJARAH PURI TABANAN
Terjemahan bebas dari Babad Arya Tabanan

Setelah Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Majapahit dan Sri Aji Kresna Kepakisan berkuasa, maka Sri Arya Kenceng diserahi tugas menjaga Tabanan dengan memiliki 40.000 rakyat. Bhatara Arya Kenceng yang menguasai daerah Tabanan beristana di Desa Pucangan bernama Buwahan yang terletak disebelah selatan Baleagung.
Batas wilayahnya :
- Sebelah Timur : We (sungai ) Panahan.
- Sebelah Barat : We Sapwan.
- Batas Utara : Gunung Batukaru, ketimur bagian utara sebelah utara kekuasaan desa Sanda.
- Sebelah Selatan : Kerambitan, Blumbang, Tanggun Titi dan Bajra., termasuk wilayah Kaba-Kaba.
Mulai tahun Saka 1256 / 1334 M dilakukan pembuatan taman kearah timur istana yang bernama Taman Sari.


Raja Tabanan I

Raja Tabanan I adalah Bhatara Arya Kenceng yang beristrikan putri keturunan Brahmana Ketepeng Reges di Daerah Majapahit. Brahmana Ketepeng Reges mempunya 3 orang putri, yang pertama diambil istri oleh Sri Kresna Kepakisan, dan yang bungsu oleh Arya Sentong.
Bhatara Arya Kenceng dengan sang Brahmani berputra:
1. Dewa Raka, dinobatkan dengan nama Sri Megadaprabu.
2. Dewa Made, dinobatkan dengan nama Sri Megadanata atau Sri Arya Ngurah Tabanan.
Dari Istrinya yang lain, melahirkan :
1. Kyayi Tegeh Kori.
2. Bibi Kyayi Tegeh Kori.
Entah berapa lamanya wafatlah Bhatara Arya Kenceng dan dibuatkan upacara pembakaran jenazah dengan memakai wadah tumpang sebelas yang dipakai sampai sekarang. Adapun Sanghyang Pitara dibuatkan Pura Pedarman dengan sebutan Batur yang dipuja oleh para putra, sanak keluarga sampai kemudian hari.
Beginilah kekeluargaan Rajaputra empat orang, beliau Sri Megadaprabu tidak ingin menduduki kekuasaan dan menyerahkan kepada sang adik Sri Megadanata.
Adapun Kyayi Tegeh Kori mencari kekuasaan di Negara Badung disebelah selatan kuburan Badung. Beliau berhasil membuat bendungan di Pegat dan melahirkan golongan Gusti Di Tegeh.
Putra yang terkecil seorang putri bertempat tinggal di Istana di Buwahan.
Sri Megadaprabu : mempunyai putri yang dijadikan istri oleh Kepala Desa Pucangan dan mempunyai anak lima orang seperti
1. Ki Tegehan di Buwahan
2 . Ki Bandesa di Tajen
3 . Ki Telabah di Twak Ilang
4 . Ki Guliang di Rejasa mempunyai trah Ngurah Tegeh
Awo
5 . Ki Bendesa Beng mempunyai trah Pasek Buduk.
Tidak lama kemudian Sri Megadaprabu meninggal


Raja Tabanan II

Karena Sri Megadaprabu tidak bersedia memegang kekuasaan di Tabanan, maka yang menjadi Raja menggantikan Bhetara Arya Kenceng adalah Sri Megadanata, dengan nama yang lain Sri Ngurah Tabanan.
Beliau tidak lupa dengan hubungan baik dengan Dalem yang pada waktu itu adalah Dalem Ketut, yang lebih dikenal dengan Sri Kepakisan yang beristana di Swecapura atau Linggarsapura Sukasada atau Gelgel. Beliau putra dari Sri Kresna Kepakisan ( cucu dari Dalem Wawu Rawuh ) yang mempunyai istana di Samprangan dan merupakan adik dari Dalem Ile.
Beliau Arya Ngurah Tabanan mempunyai dua orang istri dari keturunan kesatria dan memberikan 7 orang putra.
Yang tertua ( 1 ) : Sri Arya Ngurah Longwang / Languan .
2 : Ki Gusti Madyatara / Ki Gusti Made Kaler.
3 : Ki Gusti Noman Pascima / Ki Gusti Noman Dawuh
4 : KI Gusti Ketut Wetaning Pangkung.
Dari Ibu satunya lahir : 5 : Ki Gusti Ngurah Samping Boni.
6 : Ki Gusti Nomam Batan Ancak.
7 : Ki Gusti Ketut Lebah.
Beliau Sri Megadanata karena suatu hal yang tidak jelas, beliau difitnah ingin mengatasi Dalem, maka beliau diutus ke Majapahit menyaksikan tingkah laku Raja Majapahit. Keadaan di Majapahit aman, sejahtera dan sepi karena masuknya Agama Islam.
Diceritakan bahwa adik beliau yang tinggal diistana yang bernama Bibi Kyahi Tegeh Kori diambil oleh Dalem Gelgel dan diserahkan kepada putra Si Arya Wongaya Kepakisan yang bernama Kyahi Asak yang tinggal di Kapal. Setelah kembali dari Majapahit dan mengetahui adiknya diambil oleh Dalem, beliau marah terhadap Dalem, lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan pada putranya Sri Arya Longwan.
Beliau Sri Megadanata lalu menjalani kehidupan suci serta membuat rumah didaerah Kebon Tingguh yang terletak dibarat daya dari Istana di Pucangan. Kemudian beliau mengambil istri anak Bendesa di Pucangan dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan.
Setelah besar lalu diserahkan kepada kakaknya Sri Arya Ngurah Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan dan tetap tinggal di Istana. Setelah selesai membuat rumah, wafatlah beliau dan diadakan upacara sebaimana mestinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar