Senin, 23 Mei 2011

Ilmu Bahasa


RINGKASAN MATERI BAHASA INDONESIA
(Materi-materi yang wajib dipelajari)

·         Pembinaan Bahasa Indonesia
·         Ejaan
·         Pemakaian Kalimat
·         Bahasa Surat-menyurat
·         Pilihan Kata
·         Laporan Teknis

Peristiwa penting yang menyangkut kehidupan bangsa kita, baik yang menyangkut kepentingan masyarakat Indonesai masa kini maupun masa depan adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa itu selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang sejak tahun 1978 sekaligs dijadikan Hari Pemuda. Dalam peringatan itu dibacakan naskah Sumpah Pemuda 1928 yang merupakan kutipan Putusan Kongres Pemuda-pemuda Indonesia tahun 1928 sebagai berikut :
Pertama   :   Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua      :   Kami putra dan putri Indonseia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonsia.
Ketiga      :   Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda merupakan pernyataan kebulatan tekad yang dijalin oleh tiga unsur yang saling berkaitan. Unsur pertama dan kedua merupakan pengakuan terhadap tanah air Indosia yang satu, yang didukung oleh satu kesatuan bangsa Indonesia. Unsur yang ketiga merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional dan pada tahun 1945 secara konstitusional, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 dikukuhkan sebagai bahasa Negara.

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai
(1) lambang kebanggaan nasional,
(2) Lambang jati diri (identitas) nasional
(3) Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakng sosial budaya dan bahasanya dan
(4) Alat perhubungan antar budaya antar daerah.



Pendahuluan
Secara umum, orang menganggap bahwa ejaan berhubungan dengan melisankan bahasa. Hal itu terjadi karena orang terikat pada kata atau nama itu. Di dalam bahasa, sebetulnya ejaan berhubungan dengan ragam bahasa tulis. Ejaan adalah cara menuliskan bahasa (kata atau kalimat) dengan menggunakan huruf dan tanda baca.
Di dalam perkembangannya, bahasa Indonesia pernah menggunakan beberapa macam ejaan. Mulai tahun 1901, penulisan bahasa Indonesia (waktu itu masih bernama bahasa Melayu) dengan abjad Latin mengikuti aturan ejaan yang disebut Ejaan van Ophusyen. Peraturan ejaan itu digunakan sampai bulan Maret 1947, yaitu ketika dikeluarkan peraturan ejaan yang baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, Mr. Soewandi- dengan Surat Keputusan No. 264/Bhg. A. tanggal 19 Maret 1947 (kemudian diperbaharui dengan lampiran pada Surat Keputusan tanggal 1 April 1947, No. 345/Bhg. A). Peraturan ejaan yang baru itu disebut Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Pada saat ini bahasa Indonesia menggunakan ejaan yang disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mulai Agustus 1972, setelah diresmikan di dalam pidato kenegaraan Presiden Suharto pada tanggal 16 Agustus 1972. Penjelasan lebih lanjut mengenai aturan ejaan itu dimuat dalam (Pedoman Umum) Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan dilampirkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0196?U/1975, tanggal 27 Agustus 1975. Di dalam pedoman itu diatur hal-hal mengenai
(1)       Pemakaian huruf,
(2)       Penulisan huruf,
(3)       Penulisan kata,
(4)       Penulisan unsur serapan dan,
(5)       Tanda baca.
Berikut ini disajikan beberapa segi yang dirasakan belum mantap mengenai penerapan aturan ejaan seperti yang dikemukakan di dalam pedoman itu, yaitu beberapa hal yang menyangkut pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur serapan.


  1. Pemakaian Huruf
    1. Abdjad
Di dalam Abjad bahasa Indonesia ada 26 huruf yang digunakan, yaitu sebagai berikut :

Huruf                Dibaca               Huruf                 Dibaca
A                      a                                                     
B                      be                     O                      o
C                      ce                     P                      pe
D                      de                     Q                      ki
E                      e                      R                      er
F                       ef                     S                      es
G                      ge                     T                      te
H                      ha                     U                      u
I                       i                       V                      fe
J                       je                     W                     we
K                      ka                     X                      eks
L                       el                      Y                      ye
M                      em                    Z                      zet
N                      en                                            
                       
Singkatan kata (termasuk singkatan kata asing) yang dibaca huruf demi huruf dilafalkan menurut bahasa Indonesia. Seperti :

Singkatan                 Dibaca                   Bukan Dibaca
ABC                         a-be-ce                  e-bi-ci
BBC                         be-be-ce                bi-bi-ci
ICCU                       i-ce-ce-u                a-si-si-yu
IGGI                        i-ge-ge-I                ai-ji-ji-ai
IUD                         i-u-de                    ai-yu-di
LCC                         el-ce-ce                 el-si-si
LPG                         el-pe-ge                 el-pi-ji
YMCA                      ye-em-ce-a            way-em-si-e
MTQ                        em-te-ki                em-te-kyu
TV                           te-fe                      ti-fi


    1. Pemenggalan Kata pada Kata Dasar

Hal yang terpenting dalam pemenggalan kata pada kata dasar adalah sebagai berikut :
1)   Kalau di tengah kata ada dua buah konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua konsonan itu.

Contoh :    pan-dai              cap-lok
                Swas-ta             Ap-ril

2)   Kalau di tengah kata ada tiga buah konsonan atau lebih, pemenggalannya dilakukan di antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan yang kedua.

Contoh :    in-stru-men                bang-krut           in-tra
                ul-tra                 ben-trok

3)   Imbuhan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dipenggal serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

Contoh :    la-pang-an         pel-a-jar
                Pe-nuh-i             per-gi-lah


    1. Penulisan Nama Diri

Penulisan nama diri (nama sungai, gunung, jalan, dan sebagainya) disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus. Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum, atau kesejarahan.
Contoh :    Universitas Padjadjaran
                Universitas Gadjah Mada
                Dji Sam Su
                CV Oemar bakrie
                Soetomo Poedjosoeparmo


  1. Penulisan Huruf

a.   Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital
Dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan terdapat tiga belas penuisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang masih perlu diperhatikan :
1)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya :      Allah
                    Yang Mahakuasa
                    Bimbinglah hamba-Mu
Quran
Injil
atas rahmat-Mu      (bukan atas rahmatMu)
dengan kuasa-Nya   (bukan dengan kuasaNya)
dengan izin_ku        (bukan dengan izinKu) 

Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti imam, makmum, doa, puasa, dan misa.

Misalnya :      Saya akan mengikuti misa di gereja itu.
                    Ia diangkat menjadi imam mesjid di kampungnya.

2)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya :      Haji Agus Salim                   Imam Hanafi
                    Sultan Hasanuddin               Nabi Ibrahim

Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Benar                                           
Ayahnya menunaikan ibadah haji.
Sebagai seorang sultan,  ia tidak bertindak sewenang-wenang.

   
Salah
Ayahnya menunaikan ibadah Haji.
Sebagai seorang Sultan, tidak bertindak sewenang-wenang.




3)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya :      Gubernur Asnawi Mangku Alam
                    Letnan Kolonel Saladin
Presiden Carazon Aquino
Gubernur Irian Jaya
Rektor Universitas Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya :
Sebagai seorang gubernur yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
(bukan : Sebagai seorang Gubernur yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.)

Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi kolonel.

(bukan : Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi Kolonel.)

           
4)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya :      bangsa Indonesia
                    suku Sunda
                    bahasa Inggris


Perhatikan pelulisan yang berikut.
                    mengindonesiakan kata-kata asing
                    keinggris-inggrisan
                    kebelanda-belandaan
Perlu kita ingat bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital hanya nama bangsa; nama suku, dan nama bahasa, sedangkan kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya :
Benar                                    Salah
bangsa Indonesia                    Bangsa Indonesia
suku Melayu                           Suku Melayu
bahasa Spanyol                       Bahasa Spanyol

5)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya :
Benar                                    Salah
tahun Masehi                          Tahun Masehi
bulan Agustus                         Bulan Agustus
hari Natal                               Hari Natal
Perang Candu                         perang Candu
Proklamasi Kemerdekaan                 proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia                  Republik Indonesia

6)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya :
Benar                                    Salah
Teluk Jakarta                          teluk Jakarta
Bukit Barisan                          bukit Barisan
Danau Toba                            danau Toba
Selat Karimata                                selat Karimata
Sungai Mahakam                     sungai Mahakam        
Asia Tenggara                         Asia tenggara

Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut.
Berlayar sampai ke teluk.
Jangan m,andi di danau  yang kotor.
Mereka menyeberangi selat yang dangkal.

7)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Undang-undang Dasar 1945

Perhatikan penulisan berikut :

Benar
Dia menjadi pegawai di salah sebuah departemen.
Menurut undang-undang, perbuatan itu dapat dijatuhi hukuman setinggi-tingginya lima tahun.

Salah
Dia menjadi pegawai di salah sebuah Departemen.
Menurut Undang-Undang, perbuatan itu dapat dijatuhi hukuman setinggi-tingginya lima tahun.


8)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Misalnya :
Kapan Bapak berangkat ?
Apakah itu, Bu?
Surat Saudara sudah saya terima.
Saya akan disuntik, Dok?
Di mana rumah Bu Katarina?

Perhatikan penulisan yang berikut .

Benar
Kita harus menghormati ayah dan ibu kita.
Semua adik dan kakak saya akan berkeluarga.
Kami sendang menunggu Pak Guru.
Rumah Pak Lurah terletak di tengah-tengah desa.
Menurut keterangan Bu Dokter penyakit saya tidak parah.

Salah
Kita harus menghormati Ayah dan Ibu kita.
Semua Adik dan Kakak saya akan berkeluarga.
Kami sendang menunggu pak guru.
Rumah pak lurah terletak di tengah-tengah desa.
Menurut keterangan bu dokter penyakit saya tidak parah.

9)   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya :

Benar
Tahukan Anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Apakah kegemaran Anda?

Salah
Tahukan anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Apakah kegemaran anda?


b.   Penulisan Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan tanda garis bawah, dipakai untuk
(1)    menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan,
(2)    menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata, dan
(3)    menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya :
Majalah bahan dan Sarana sangat digemari para pengusaha.
Sudahkan Anda membaca buku Negara Kertagama karangan Prapanca?
Surat kabar Suara dan majalah Massa dapat merebut hari pembacanya.
Nama Latin untuk buah manggis adalah Garcinia Mangostana.
Sebenarnya, bukan saya yang harus mengerjakan hal itu, melainkan dia.
Huruf pertama kata tempe adalah t


  1. Penulisan Kata

Mengenai penulisan kata, yang masih perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.
1.   Awalan di- dan ke- ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Benar                                    Salah
dikelola                                  di kelola
ketujuh                                  ke tujuh

2.   Gabungan kata yang salah satu unsurnya merupakan unsur terikat ditulis serangkai.

Benar                                    Salah
saptakrida                              sapta krida
                                            sapta-krida
subseksi                                 sub seksi
                                            sub-seksi
nonkolaborasi                                 nonkolaborasi
                                            non-kolaborasi

3.   Bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan atau akhiran ditulis serangkaian atau ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur gabungan kata itu.

Benar                                    Salah
bertolak belakang                    bertolakbelakang
                                            Bertolak-belakang
tanda tangani                         tandatangani
                                            tanda-tangani
mendarah daging                    mendarahdaging
                                            mendarah-daging

4.   Bentuk dasar berupa gabungan kata yang sekaligus mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.

Benar                                    Salah
melatarbelakangi                     melatar belakangi
                                            melatar-belakangi
menghancurleburkan               menghancur leburkan
                                            menghancur-leburkan
penyebarluasan                       penyebar luasan
                                            penyebar-luasan
dibumihanguskan                    dibumi hanguskan
                                            dibumi-hanguskan

5.   Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, di antara kedua unsur itu dibubuhkan tanda hubung (-).

Bentuk                                   Salah
non-Indonesia                         nonIndonesia
                                            non Indonesia
non-Afrikanisme                      nonAfrikanisme
                                            non Afrikanisme

6.   Kata ulang dituliskan dengan menggunakan tanda hubung di antara kedua unsurnya.

Benar                                    Salah
anak-anak                              anak anak
undang-undang                       undang undang
terus-menerus                                terus menerus

7.   Kata depan di dan ke ditulis terpisah dri kata yang mengikutinya.

Benar                                    Salah
di rumah                                dirumah
ke mana                                kemana

8.   Kata sandang si ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Benar                                    Salah
si pengirim                             sipengirim
si penerima                            sipenerima
si pemalu                               sipemalu
si pencuri                               sipencuri

9.   Partikel per yang berarti ‘tiap’ dan ‘mulai’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului dan mengikutinya. Sebaliknya, per pada bilangan pecahan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.


Benar                                    Salah
satu per satu turun                  satu persatu turun
dua pertiga                             dua per tiga

10.    Singkatan nama gelar sarjana kesehatan, dokter, seringkali dipermasalahkan. Di dalam lingkungan masyarakat muncul singkatan Dr.  untuk dokter (kesehatan) dan DR untuk doktor (purnasarjana). Hal ini tentu saja bertentangan dengan kaidah karena singkatan Dr. diperuntukkan bagi gelar Doktor, sedangkan DR seolah-olah merupakan singkatan kata atau nama yang sama halnya dengan PT (perseroan terbatas), SD (sekolah dasar).

11.    Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf kapital, tidak diikuti tanda titik.

Benar                                  Salah
DPR                                     D.P.R
PT                                       P.T.
SMP                                    S.M.P
SD                                      S.D.

12.    Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Benar                                  Salah
sda.                                    s.d.a.
ttd.                                     t.t.d.
yad.                                    y.a.d.

13.    Lambang kimia, singkatan satuan ukuran timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Benar                                  Salah
cm                                      cm.
Rp                                       Rp.     
km                                      km.

14.    Akronim nama diri, yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Benar                                  Salah
Golkar                                 GOLKAR
Kowani                                KOWANI
Bappenas                             BAPPENAS



  1. Penulisan Unsur Serapan

Bahasa Indonesia telah menyerap berbagai unsur dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun dari bahasai asing Sansekerta, Arab, Pertugis, Belanda, Inggris, dan bahasa asing lain.

Berdasarkan cara masuknya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua golongan, yaitu (1)  unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia dan (2) unsur asing yang pengucapan dan penulisannyadisesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Untuk keperluan itu telah diusahakan ejaan asing hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesia masih dpat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicantumkan aturan penyesuaian itu. Dapat ditambahkan bahwa hal ini terutama dikenakan kepada kata dan istilah yang baru masuk ke dalam bahasa Indonesia, serapan lama yang sudah dianggap umum tidak selalu harus mengikuti aturan penyesuaian tadi.
Berikut ini contoh unsur serapan itu.

Baku                                     Tidak Baku
apotek                                   apotik
atlet                                      atlit
atmosfer                                atmosfir
aktif                                      aktip
aktivitas                                 aktifitas
arkais                                    arkhais
arkeologi                                arkheologi
akhir                                     ahir ; akir
akhlak                                   ahlak
advis                                     adpis
advokat                                 adpokat
adjektif                                  ajektif
asas                                      azas
asasi                                     azasi
analisis                                  analisa
   menganalisis                           menganalisa
   penganalisisan                        penganalisaan
ambulans                               ambulan
anggota                                 anggauta
   beranggotakan                        beranggautakan
   keanggotaan                          keanggautaan
balans                                   balan
definisi                                   difinisi
depot                                    depo
diferensial                              differensial
ekspor                                   eksport
ekstrover                               ekstrovert
ekuivalen                               ekwivalen
esai                                       esei
formal                                   formil
Februari                                 Pebruari
filologi                                   philologi
fisik                                       phisik
Foto                                      photo
frekuensi                                frekwensi
film                                       filem
hakikat                                  hakekat
hierarki                                  hirarki
hipotesis                                hipotesa
intensif                                  intensip
insaf                                      insyaf
ikhlas                                    ihlas
ikhtiar                                    ihtiar
impor                                    import
intriver                                  introvert
istri                                       isteri
iktikad                                   itikad
ijazah                                    ijasah
izin                                        ijin
ilustrasi                                  illustrasi
jenderal                                 jendral
jadwal                                   jadual
kartotek                                 kartotik
komedi                                  komidi
konkret                                  konkrit
karier                                    karir
kaidah                                   kaedah
khotbah                                 khutbah
   berkhotbah                             berkhutbah
konsepsional                           konsepsionil
konferensi                              konperensi
kreativitas                              kreatifitas
kongres                                 konggres
kompleks                               komplek
katalitas                                 katalisa
kuantum                                kwantum
konsekuensi                           konsekuwensi
kualifikasi                               kwalifikasi
kualitas                                  kwalitas
kuarsa                                   kwarsa
kuitansi                                  kwitansi
kuorum                                  kworum
kuota                                    kwota
konfrontasi                             konfrontir
   dikonfrontasi                           dikonfrontir
konsinyasi                              konsinyir
   dikonsinyasi                            dikonsinyir
koordinasi                              koodinir, kordinir
   dikoordinasi                            dikoordinir
konduite                                kondite
kategori                                 katagori
   dikategorikan                          dikatagorikan
konsesi                                  konsessi
kelas                                     klas
klasifikasi                               kelasifikasi
linguistik                                lingguistik
lazim                                     lajim
likuidasi                                 likwidasi
metode                                  metoda
motif                                     motip
motivasi                                 motifasi
masyarakat                            masarakat
mantra                                  mantera
manajemen                            managemen
manajer                                 manager
massa                                   masa (orang banyak)
masalah                                 masaalah
masal                                    massal
misi                                       missi
November                              Nopember
nasihat                                  nasehat
   penasihat                               penasehat
nasionalisasi                           nasionalisir
   dinasionalisasikan                    dinasionalisir
operasional                             operasionil
objek                                    obyek
ons                                       on
organisasi                               organisir
problem                                 problim
problematik                            problimatik
positif                                    positip
produktif                                produktip
produktivitas                           produktifitas
psikis                                     psikhis
psikologi                                psikhologi
paspor                                   pasport
putra                                     putera
putri                                      puteri
produksi                                 produsir
   memproduksi                          memprodusir
proklamasi                             praklamir
   diproklamasikan                      diproklamirkan
profesi                                   professi
   keprofesian                            keprofessian
profesor                                 professir
rasional                                  rasionil
resistans                                resistan
rezeki                                    rejeki
risiko                                     resiko
sistem                                   sistim
sistematika                             sistimatika
sistematis                               sistimatis
spesies                                  spesis
sintetis                                   sintesa
spiritual                                  spirituil
subjek                                   subyek
sintesis                                  sintesa ; sintese
syakwasangka                        sakwasangka
syukur                                   sukur
   mensyukuri                            mensukuri
sah                                       syah
sahih                                     syahih
saraf                                     syaraf
sutera                                    sutra
standar                                  standard
standardisas                           standarisasi
survai                                    survei
sukses                                   sakses
teori                                      tiori
teoretis                                  teoritis
telegram                                tilgram
telepon                                  tilpun
tradisional                              tradisionil
tafsiran                                  tapsiran
tarif                                       tarip
teknik                                    tehnik
teknisi                                   tehnisi
teknologi                                tehnologi
teleks                                    telek
tripleks                                  triplek
terampil                                 trampil
   keterampilan                          ketrampilan
terap                                     trap
   penerapan                              penetrapan
transpor                                 transport
transportasi                            transportir
teladan                                  tauladan
   keteladanan                           ketauladanan
   diteladani                               ditauladani
tim                                        team
terjemah                                terjamah
varietas                                 varitas
wujud                                    ujud
   berwujud                               berujud
   perwuudan                             perujudan
zaman                                   jamah
           


PEMAKAIAN KALIMAT


  1. Pengertian Kalimat

Orang berbahasa tidak menggunakan kata-kata secara lepas, tetapi dengan merangkaikannya menjadi bentukuntaian kata yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Untaian kata yang mengungkapkan pikiran secara utuh itu disebut kalimat. Dalam sebuah karangan tertulis atau surat, kalimat itu merupakan bagian terkecil sebagai unsur pembentuknya. Paling tidak, kalimat itu merupakan titik tolah ataubagian awal sebuah karangan. Agar dapat dipahami lebih jelas mengenai kalimat itu, perhatikanlah contoh petikan karangan beriktu ini.

Ujian telah lama berakhir. Bahkan, sudah diumumkan hasilnya. Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali. Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga. Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya.

Pada contoh di atas, kita dapat menemukan lima buahkalimat yang membangun bagian karangan itu, yaitu
(1)        Ujian telah lama berakhir.
(2)        Bahkan, sudah diumumkan hasilnya.
(3)        Fernando sudah meraih tanda tamat belajar SMA jurusan ilmu pengetahuan sosial dengan nilai baik sekali.
(4)        Ia tidak berhasil menjadi juara umum di sekolahnya, tetapi hanya nomor tiga.
(5)        Walaupun demikian, ini pun sudah merupakan prestasi yang gemilang, mengingat bahwa disamping belajar ia harus melakukan kegiatan lain yang tidak ringan, yaitu mengurusai pemasangan pompa sumur untuk para petani di desanya

Kalimat sebagai unsur dasar pembentuk karangan dalam wujud tulisan mempunyai ciri-ciri berikut :
a.   Kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau mungkin juga dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!).
b.   Di tengahnya dipakai spasi san tand baca seperti koma (,), titik dua (:), titik koma (;), tanda hubung (-).

        Contoh kalimat (1) sampai dengan (5) adalah kalimat yang utuh. Untuk mengetahui keutuhan sebuah kalimat, kita dapat mengamati contoh kalimat (1) Ujian telah lama berakhir. Misalnya. Kata Ujian dan berakhir dalam kalimat itu merupakan kata-kata yang diperlukan. Jika salah satu di antaranya kita hilangkan sehingga kalimat itu menjadi (a) Ujian telah lama  atau (b) telah lama berakhir,  pernyataan (a) dan (b) merupakan bentuk pengungkapan pikiran yang tidak utuh lagi. Dengan perkataan lain, bentuk pengungkapan pikiran itu merupakan kalimat yang tidak benar.
        Kebenaran sebuah kalimat, selain ditentukan oleh keutuhan unsur-unsur pikiran, ditentukan juga oleh
a.   Kelugasan penyusunannya (tidak rancu);
b.   Urutan kata-katanya;
c.   Ketepatan pemakaian kata-kata penghubungnya atau perangkainya;
d.   Kecermatan memilih kata-katanya;
e.   Kebenaran menggunakan bentuk kata-katanya.

Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahan kalimat yang disebabkan ileh (1) penulisan kalimat yang tidak utuh, (2) pemakaian bentuk kata yang rancu, (3) pemakaian keterangan yang tidak lengkap, (4) urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia, (5) pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan (6) pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.


  1. Penulisan Kalimat yang Tidak Utuh

Yang tergolong ke dalam jenis kesalahan seperti ini adalah kalimat yang menghilangkan salah satu atau beberapa bagian kalimat yang kehadirannya wajib atau menentukan kelengkapan kalimat itu.
        Contoh :
(1)        Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2)        Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap.
(3)        Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.

Ketidakbenaran kalimat (1) adalah bahwa kalimat itu tidak menampilkan apa atau siapa yang menghasilakan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama. Bagian itu dalam kalimat (1) dihilangkan sehingga pikiran yang diungkapkan kalimat tersebut menjadi tidak utuh lagi.
        Dalam kalimat (2) kita tidak melihat bagian kalimat yang menyatakan perbuatan apa atau dalam keadaan apa yang dilakukan atau dialami oleh kegagalan proyek itu sehingga dengan hilangnya bagian itu, kalimat menjadi tidak utuh lagi. Lebih-lebih lagi, dalam kalimat (3) ada beberapa bagian yang dihilangkan, yaitu bagian yang menyatakan siapa yang berbuat  dan jenis  perbuatan apa  yang dilakukannya yang diterangkan oleh  tenun ikat yang khas Timor Timur itu.
        Jika kalimat (1), (2), dan (3) kita betulkan menjadi kalimat yang utuh, kalimat-kalimat itu kita ubah menjadi
(1)        Dalam musyawarah itu mereka menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.
(2)        Kegagalan proyek itu terjadi karena perancangan yang tidak mantap.
(3)        Tenun ikat yang dipakai oleh Raja Los Palos tergolong ke dalam tenun ikat yang khas, yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.

Kalimat (1) dapat juga kita betulkan dengan tidak menambahkan bagian lain ke dalam kalimat, tetapi dengan mengubah bentuk menghasilkan  menjadi  dihasilkan sehingga kalimat itu menjadi

Dalam musyawarah itu dihasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.

Atau dapat juga dibetulkan dengan cara menghilangkan kata dalam sehingga kalimat menjadi

Musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan yang harus dipatuhi bersama.



  1. Pemakaian Bentuk Kata yang Rancu
Kesalahan kalimat seperti itu dimungkinkan karena penulis (pemakai bahasa) mengacaukan dua macam pengungkapan kalimat atau lebih. Misalnya :
(4)        Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Yang dirancukan dalam kalimat (4) itu adalah
Meskipun negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.
        Dan
Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Jadi, kerancuan yang tampak pada kalimat (a) itu adalah pemakaian sekaligus kata meskipun dan  tetapi dalam sebuat kalimat.

  1. Pemakaian Keterangan yang Tidak Lengkap
Jenis kesalahan seperti ini pada umumnya terdapat dalam penulisan surat resmi (surat dinas dan surat niaga). Misalnya :

Memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami.

Kalimat di atas terasa janggal jika urutan bagian-bagiannya diubah menjadi

 (5a) Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami  memenuhi permintaan Saudara.

Kalimat (5a) itu akan terasa lebih lancar jika bagian memenuhi permintaan Saudara  itu didahului dengan kata  untuk  sehingga kalimat itu menjadi

(5b) Bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami  untuk memenuhi permintaan Saudara.

Apabila dikembalikan posisinya ke posisi semula, kalimat itu menjadi
(5c) ) Untuk memenuhi permintaan Saudara, bersama ini kami kirimkan sebuah daftar harga terbitan kami  

  1. Urutan Kata yang Menyalahi Aturan Berbahasa Indonesia

Kesalahan penulisan kalimat juga terjadi karena urutan katanya tidak sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia. Kesalahan seperti itu dapat dilihat pada contoh berikut.

 (6) Saya telah umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun negara kita yang ke-45.
Kesalahan urutan kata pada kalimat (6) tampak pada bagian saya telah umumkan pada hari ini,  dan  ulang tahun negara kita yang ke-45.  Menurut kaidah penulisan kalimat bahasa Indonesia, urutan kata pada bagian-bagian itu hendaklah diubah menjadi  telah saya umumkan, pada hari ini,  dan  ulang tahun ke-45 negara kita.
Dengan perubahan urutan kata seperti yang telah dilakukan itu, kalimat berikut ini menjadi kalimat yang benar.

(6a) Telah saya umumkan bahwa pada hari ini juga panggung itu kita bangun untuk merayakan hari ulang tahun ke-45 negara kita.


  1. Pemakaian Kata atau Ungkapan Penghubung yang Tidak Tepat
Yang dimaksud dengan kata atau ungkapan penghubung dalam pembicaraan ini ialalah semua kata atau ungkapan yang dipergunakan oleh penulis (pemakai bahasa) untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung antarbagian kalimat yang lazim dipakai dalam penulisan kalimat antara lain kata  dan, atau, tetapi, ketika, jika, asalkan, agar, supaya, meskipun, sebagai, sebab, karena, dan bahwa.
Pemakaian kata penghubung antarbagian kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
(1)        Bu Siska adalah seorang guru teladan  dan anak-anaknya pun pandai-pandai pula.
(2)        Fernadez ingin menjadi juara umum di sekolahnya  tetapi ia hanya berhasil menjadi juara tiga.
(3)        Pa Mario tidak masuk kantor hari ini  karena sakit.
(4)        Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya berusaha keras  untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(5)        Gubernur mengumumkan  bahwa kota Mataram, tahun depan akan menjadi kota wisata.
(6)        Pembangunan di bidang pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Timur terus ditingkatkan  agar kehadiran para wisatawan asing terus meningkat.
(7)        Di kampung kami dipasang dua puluh sumur pompa  ketika  musim kemarau  sangat panjang.
Menurut kenyataannya, dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari sering ditemukan beberapa kesalahan, yaitu makin kaburnya batas pemakaian penghubung antarbagian kalimat dan penghubung antarkalimat.
Contoh :
(a)        Pak Carlos menghadapi persolalan yang berat di kantornya. Tapi ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.
(b)        Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya. Yaitu tenun ikat khas Timor Timur yang dahulu hanya dipakai raja-raja.
Kata tapi dan yaitu  yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung antarbagian kalimat, dipakai juga sebagai penghubung antarkalimat. Bandingkan dengan kalimat di bawah ini.

(c)         Pak Carlos menghadapi persoalan yang berat di kantornya, tetapi ia pun dengan sabar dapat menyelesaikannya.
(d)        Kabupaten Los Palos dikenal dengan kain tenun ikatnya,  yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur yang dahulu dipakai oleh raja-raja.
Ungkapan penghubung yang berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak banyak jumlahnya.
Yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia antara lain (oleh) karena itu, namun, kemudian, setelah itu, bahkan, selain itu, sementara itu, walaupun demikian, sehubungan dengan itu.

Contoh pemakaiannya dapat dilihat seperti di bawah ini.
(e)        Pembangunan di bidang pariwisata terus ditngkatkan. Oleh karena itu, kehadiran wisatawan asing di Indonesia setiap tahun terus bertambah.
(f)          Musim kemarau tahun ini di desa kami sangat lama.  Walaupun demikian, berkat pemasangan sumur pompa bahasa kekeringan dapat diatasi.
Kesalahan pemakaian ungkapan penghubung antarkalimat sama halnya dengan kesalahan pemakaian kata penghubung antar bagian kalimat yaitu pemakaian kedua jenis penghubung itu dikaburkan seperti contoh berikut ini.
(g)        Saya tidak sependapat dengan mereka,  namun demikian  saya tidak akan menentangnya.
(h)        Fernadez anak yang tergolong pandai di sekolahnya bahkan ia pernah menjadi juara ketiga.

Jika ungkapan penghubung antarkalimat digunakan dengan benar, kalimat itu seharusnya ditulis sebagai berikut.
(g1) Saya tidak sependapat dengan mereka.  Namun,  saya tidak akan menentangnya.
(g2) Fernandez anak yang tergolong pandai di sekolahnya.  Bahkan, ia pernah menjadi juara ketiga.

  1. Kesalahan Pemakaian Kata Depan
Berikut ini dikemukakan contoh kesalahan pemakaian kata depan


Sampaikan kontribusi Anda untuk pengelolaan dan pengembangan web. Ke
Bank Mandiri Cab Dep. Keuangan Rek. 119 000 4239 222. Lalu sms konfirmasi
kontribusi#tgl transfer#jumlah#nama#alamat#Keterangan
Kirim ke 08568445659

Contoh : kontribusi#21/01/07#10.000#Budi#Jl. Nanas No. 2 Jambi#Kontribusi Materi Bahasa Indonesia



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar