Rabu, 16 Januari 2013

Aspek perkawinan campuran dalam novel Bahasa Bali


Catur Asrama adalah adalah empat lapangan hidup (pangasraman) yang berdasarkan petunjuk kerohanian yang terdiri dari Brahmacari yaitu tingkatan hidup dalam ketekunan mencari ilmu pengetahuan atau tingkat hidup berguru. Grhasta yaitu tingkatan hidup berumah tangga. Wanaprasta yaitu tingkat hidup dalam pengunduran diri dari kesibukan dalam masyarakat. Sannyasa (Bhiksuka) tingkat hidup yang telah melepaskan sama sekali ikatan keduniawian atau disebut juga tingkat hidup berkelana (Ngurah, 1999: 79).
Salah satu tingkatan dari Catur Asrama dikenal dengan masa menempuh hidup berumah tangga atau Grahasta. Masa Grahasta yaitu perkawinan ialah untuk memperoleh seorang anak yang  akan meneruskan garis keturunannya dan percaya bahwa anak menyupat (membebaskan) roh leluhurnya di ”alam sana” (Sudharta, 1993: 66).
Menurut Pudja (1975: 23), berdasarkan tradisi dan hukum adat perkawinan yang berlaku di Bali, ada 4 sistem perkawinan yang umum dijalankan dalam  perkawinan Hindu di Bali yaitu :
1.      Sistem mamadik (meminang atau meminta), yaitu perkawinan yang dilandasi rasa cinta, sama suka akan masing-masing pasangan dan mendapat restu orang tua.
2.      Sistem ngarorod yaitu perkawinan yang dilandasi rasa suka sama suka, tetapi tidak mendapatkan restu dari orang tua, atau pernikahan terjadi akibat salah satu pihak sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi.
3.      Sistem nyentana atau juga merupakan bentuk sistem nyeburin yaitu  bentuk sistem matrilinial.
4.      Sistem ngunggahin yaitu bentuk perkembangan tersendiri dari sistem ngarorod.

Selain sistem perkawinan tersebut di atas, perkawinan masyarakat di Bali juga mengenal adanya istilah perkawinan campuran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 518) kawin campur adalah perkawinan diantara dua pihak yang berbeda agama, kebudayaan, golongan, dan suku bangsa.
Perkawinan campuran merupakan aspek perkawinan yang marak terjadi akibat adanya pengaruh globalisasi dan pariwisata.  Hal ini terjadi akibat pengaruh pesatnya arus wisatawan asing yang datang ke Bali. Perkawinan campuran antara etnik yang terjadi di Bali memiliki latar belakang bahasa, bangsa, dan budaya yang berbeda. Hal ini merupakan salah satu dampak sosial budaya terhadap hubungan internasional antara anggota masyarakat yang berkecimpung dalam bidang pariwisata. Dampak sosial ini menimbulkan perubahan struktur sosial masyarakat Bali seperti sikap, pola hidup, dan karakter masyarakat. Dalam masyarakat Bali modern  seperti sekarang ini misalnya dalam  keputusan  terhadap pemilihan teman hidup semakin terbuka, karena dinamika dan pendidikan masyarakat yang semakin berkembang. Mereka tidak canggung lagi untuk menikah dengan orang asing. Hal ini mencerminkan sikap masyarakat yang dinamis, terbuka, dan fleksibel sehingga meningkatnya jumlah perkawinan campuran antara etnik Bali dengan orang asing. (Laksminy, 2003: 1).
Dari pendapat di atas saling mendukung namun dalam aspek perkawinan campuran akibat adanya pengaruh pariwisata lebih banyak menggunakan pendapat Laksminy. Jadi perkawinan campuran merupakan perkawinan antara dua pihak yang berbeda agama, kebudayaan, golongan dan suku bangsa. Dalam novel DTBK kisah cinta Nyoman Sari dan John Pike mengarah pada terjadinya perkawinan campuran. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
,, Mari kita minum merayakan my first love Sarita,” lantas ia nudingang Café ané ada di bucun jembatane, ...(hal 47)

Terjemahan :

,, Mari kita minum untuk merayakan cinta pertama kita Sarita,“ kemudian ia menunjuk kafe yang ada di ujung jembatan, ...

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa John Pike setelah berpacaran dengan Nyoman Sari nama Nyoman Sari berubah menjadi Sarita, begitu juga John Pike menjadi Made Kesuma, perubahan nama itu mungkin saja agar mereka saling mempunyai rasa berdekatan. Perkembangan pariwisata mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat. Nyoman Sari merupakan seorang gadis yang menerima pembaharuan serta pemikiran baru, tentang perkawinan campura. Nyoman Sari tidak merasa canggung untuk menjalin kasih dengan John Pike. Perbedaan agama, kebudayaan, bahasa, dan bangsa bukan menjadi halangan tetapi sebagai perekat cintanya sehingga Nyoman Sari menerima John sebagai kekasihnya.
 Uraian selanjutnya sudah mengarah pada terjadinya perkawinan campuran antara Nyoman Sari  dan John Pike. Hal ini terlihat pada saat Nyoman Sari akan dilamar oleh John Pike. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
…, Beli akan datang ke rumahmu melamar kamu meminta kepada orang tuamu supaya Sarita diperkenankan menjadi istri John Pike uling Australi,”… (hal 48)

Terjemahan :

…, Kakak akan datang ke rumahmu melamar kamu meminta kepada orang tuamu supaya Sarita diperkenankan menjadi istri John Pike dari Australi,”…

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa John akan segera meminang Nyoman Sari sebagai istrinya. Hal ini jelas memperlihatkan bahwa akibat dari perkenalan Nyoman Sari dengan John Pike, mengarah pada tahapan yang serius akan adanya perkawinan campuran antara warga negara Indonesia dengan warga negara Australia.
John mengatakan kepada Nyoman Sari bahwa setelah melaksanakan pernikahan di Australia, John Pike bersedia menjadi orang Bali dan menetap di Bali bersama Nyoman Sari. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
,, Ya tapi perkawinan di Australi itu penting untuk menyenangkan hati orang tua beli dan menghormati kerabat lan lingkungan beli di Australi sesudah itu kita tinggal di Bali,” … (hal 49)

Terjemahan :

,, Ya tapi perkawinan di Australia itu penting untuk menyenangkan hati orang tua kakak dan menghormati kerabat dan lingkungan kakak di Autralia sesudah itu kita tinggal di Bali,”…

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa John menyampaikan kesediaannya kepada Nyoman Sari, setelah John dan Nyoman Sari melangsungkan pernikahan di Australia, John akan menetap dan menjadi orang Bali.   
Uraian selanjutnya, Nyoman Sari dan Jon Pike menanyakan hari baik untuk melaksanakan pernikahan kepada Wayan Mandra. John ingin menikah seperti orang Bali dan menjadi orang Bali. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
…, ia dot maupacara ngantén cara anak Bali karena ia dot pesan dadi anak Bali. Nyoman Sari masi ngorahin yén déwasa anak ngantén Bali buin pelekutus wiadin selikur Galungan dadiné akhir bulan Oktober nénénan luung déwasané ngantén, … (hal 92)

Terjemahan :

…, Dia ingin menikah seperti orang Bali karena ia sangat ingin menjadi orang Bali. Nyoman Sari juga mengatakan jika hari baik orang menikah Bali lagi delapan belas atau duapuluh satu hari sebelum Galungan. Jadi pada akhir bulan Oktober ini hari baik untuk menikah,..

Dari uraian di atas, terlihat bahwa John dan Nyoman Sari akan segera melaksanakan pernikahan pada akhir bulan Oktober. Karena pada saat itu di Bali harus menunggu hari baik yaitu 18 atau 21 hari sebelum Galungan untuk melaksanakan upacara pernikahan. Perbedaan agama, budaya, bahasa, bangsa bukan menjadi halangan yang berarti. John bersedia menjadi orang Bali setelah upacara pernikahan di Australia. Hal ini memperlihatkan bahwa perkawinan campuran akan terjadi antara John dan Nyoman Sari merupakan suatu realita yang akan ada dalam kehidupan masyarakat. Melalui tokoh Nyoman Sari terlihat kegigihan seorang gadis yang ingin tetap tinggal di tempat kelahirannya.
Sebelum upacara pernikahan berlangsung, pada tanggal 12 Oktober 2002.  John Pike meninggal menjadi korban peledakan bom di  Diskotik Sari Club di Jalan Legian, Kuta. Upacara pernikahan gagal dilaksanakan, Nyoman Sari sangat sedih dengan kematian John dan berjanji demi cintanya untuk menjadi perawan tua selamanya, hingga ajal datang menjemputnya. Upacara pernikahan yang direncanakan akan berlangsung di Australia dan Bali, tidak akan pernah terjadi. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
…, makejang teka karena suba tawanga pasti ia ajak timpalné suba mati dadi korban bom di Sari Club Legian Kuta karena ada sepéda montor ané séwana tekén timpalné ditu hangus terbakar. Jasad beli Madé sing kena baan ngingetang enu ngantosang hasil kerja team forensik uling Australi.  (hal 98)
…, Makejang madalem ia karena beli Madé suba ngirim email apang keluargané ngidih Sarita ka Bali tur bakal ngadaang upacara perkawinan di Australi lan di Bali, … (hal 98)
  
Terjemahan :

…, Semuanya datang karena sudah mengetahui pasti ia dan temannya telah meninggal menjadi korban bom di Sari Cub Legian Kuta karena ada sepeda motor yang disewa oleh temannya hangus terbakar. Jasad kakak Made tidak dapat dikenali masih menunggu hasil kerja tim forensik dari Australia.
…, Semua kasihan kepadanya karena kakak Made sudah mengirim email agar keluarganya meminang Sarita ke Bali dan akan mengadakan upacara perkawinan di Australia dan di Bali, …

Menyimak uraian di atas, terlihat jelas bahwa pariwisata membawa pengaruh yang sangat besar terhadap terjadinya perkawinan campuran. Nyoman Sari dalam novel DTBK tidak merasa canggung untuk menjalin kasih dengan John Pike, nama Nyoman Sari berubah menjadi Sarita dan John Pike menjadi Made Kesuma, perubahan nama itu mungkin saja agar mereka saling mempunyai rasa berdekatan, sehingga perbedaan agama, kebudayaan, bahasa, bukan menjadi halangan untuk melaksanakan pernikahan. Dalam novel DTBK sudah mengarah akan terjadinya perkawinan campuran antara Indonesia dan Australia. Akan tetapi perkawinan campuran tidak terjadi antara Nyoman Sari dan John Pike karena John Pike meninggal dalam tragedi peledakan bom di Diskotik Sari Club Legian, Kuta sebelum upacara pernikahan.

Skripsis: Ni Nyoman Astiti Dewi, aspek sosiologi sastra novel Depang tiang Bajang sekayang-kayang karya I Nyoman Manda. 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar